Rabu, 29 Februari 2012


KERANGKA NOVEL
Syahdah cinta
            Seorang cowok playboy yang bernama rendi sedang jatuh cinta pada seorang gadis muslimah alumni pesantren yang sedang menuntut ilmu di negri jiran Malaysia. Mereka bertemu saat para mahasiswa islam Malaysia melakukan study banding kekampus rendi (universitas medan). Tepat saat rendi bertengkar hebat dengan ceweknya yang baru.
            Saat rendi ingin berbalik karena kesal, ia tidak sengaja menabrak Zahra yang ingin masuk keruangan pertemuan hingga jatuh dan tangannya terluka. Disaat rendi ingin menolong dan memegang tangan Zahra, Zahra menghindar karena Zahra merasa rendi bukan muhrimnya. Disaat itulah rendi ingin menguji keplayboyannya kepada Zahra. Rendi tidak hentinya menatap Zahra dipertemuan itu (rendi ikut pertemuan karena ia salah satu dari ketua seni di kampusnya).
            Rendi mulai mengejar Zahra yang menginap di hotel Grand hanya satu minggu. Rendi pikir Zahra seperti cewek biasanya yang bisa ditaklukan dengan ketampanan dan hartanya, tapi rendi salah dan tanpa sadar selama ia bertemu dengan Zahra selama satu minggu ia membatalkan niatnya untuk menguji keplayboyannya, karena Zahra terlalu baik untuk dijahatinya. Zahra selalu menemuinya dengan kerudungnya disertai temannya dan sangat sopan. Alasan rendi untuk menemuinya karena ingin konsultasi (hanya alasan). Satu hari rendi dapat melupakan Zahra, tetapi ia ingat kata2 zahra tentang “lataqrobuzzina” rendi jadi memikirkannya karena ia kangen akan ceramah Zahra. Rendi mengirim e-mail untuk mendekatinya kembali. Namun hasilnya sama, Zahra menolaknya dengan mulus.
            Lama2 karena ceramah Zahra rendipun mulai belajar agama dengan ikut keagamaan dikampus, ia jadi alim. Namun saat kesekian kalinya ia menyatakan cinta ke Zahra, Zahra tetap menolaknya dengan halus.
            Rendi yang mulai sadarpun meninggalkan bangku kampusnya dan pergi kepondok pesantren al-hidayah untuk menuntut ilmu agama, dan saat itu ia sadar akan arti niat untuk menuntut ilmu karena perempuan itu salah, dan iapun tidak lagi mengharapkan Zahra jadi pendampingnya. Beberapa tahun kemudian rendi menjadi ustadz dipondok itu, dan menjadi kepercayaan ki’ai. Karena rendi begitu baik dimata kiai, iapun dijodohkan dengan Fatimah anak kiai, sejenak rendi teringat Zahra yang membuat ia jadi lebih mengenal agama. Namun ia pasrah untuk jodohnya kepada Allah, saat ia taaruf dan melihat perempuan dibalik cadar, ternyata ia adalah Zahra yang nama lengkapnya Fatimah Az-zahra.

novel iseng-iseng: THREE LOVE

novel iseng-iseng: THREE LOVE: Three love Prolog “ Ra…gue harap lo bahagia disurga, gue janji gue ga’bakalan deket-deke...

Rabu, 22 Februari 2012

cerpen iseng


MENTARI SENJA
            Bull shit,sialan!, hanya itu yang bisa keluar dari hatiku yang penuh sesak pada sumpah serapah yang sebenarnya ingin kutumpahkan kepada seseorang dihadapanku, tetapi hatiku begitu ciut untuk memuntahkan isi hatiku, mulutku terkatup rapat seperti orang bisu yang hanya bisa memandang seorang perempuan dihadapanku yang sedang memelototi mataku. Terlihat diwajahnya keritan-kerutan yang menandakan ia seorang perempuan pekerja keras yang sudah tua, dilengannya Nampak urat-urat yang berjejal keluar seperti bukan tangan seorang perempuan pada umumnya.
            “ Amak belum punya uang nak ”. Rintihnya sesaat beberapa menit dalam syuasana diam.
            “ kalau amak tidak mau membelikan said sepeda baru, said juga tidak mau jualan kripik lagi disekolah.” Jawabku sekeras mungkin.
            Kulirik wajah amak saat itu merah padam, air matanya mulai menetesi pipinya yang masih berdebu karena karena belum sempat mencuci mukanya yang bekas debu jalanan saat ia menjajakan kripik jualan kami tadi siang. Sementara Fatimah adikku yang baru berumur dua tahun sedang menangis dipangkuannya, mungkin karena teriakanku membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
            Memang kehidupan kami menurun drastis saat ayahku meninggal satu tahun yang lalu. Ayah yang hanya kuli  bangunan hanya bisa meninggalkan gubuk kecil yang sudah bobrok yang sekarang kami diami, semenjak ayah tiada aku dan ibuku mengumpulkan hasil jualan keripik singkong untuk biaya hidup kami sehari-hari
           

Jumat, 10 Februari 2012

THREE LOVE


Three love
Prolog
            “ Ra…gue harap lo bahagia disurga, gue janji gue ga’bakalan deket-deket lagi dengan yang namanya olahraga  basket, air yang turun dari langit hari ini adalah saksi janji gue ke lo. ”
“ Ra…kenapa lo harus pergi secepat ini….......” Tubuh remaja muda itu berlutut disamping batu nisan yang basah diguyur hujan sore itu, air diwajah pemuda itu bercampur dengan air matanya yang mengucur deras. Sedari tadi orang-orang disekelilingnya mulai menjauh. Hanya dirinya dan seorang lagi yang selalu setia menunggunya.
Lelaki dihadapannya terus menangis dan merasa bersalah atas apa saja yang baru saja dilakukannya. Kepalanya tertunduk lemas.
” Ra, gue janji gue ga’bakalan melanggar perkataan gue. ” Pemuda itu berdiri bertepatan dengan berhentinya hujan deras disekeliling mereka, lalu meninggalkan tempat itu diikuti sahabat yang selalu ada untuknya.
1
            Garimis siang mengguyur kota jogja, genangan airpun menjadi santapan para pengguna jalan hari itu. Nampak dihalaman sekolah SMA1 siswa-siswa sedang berteduh menunggu gerimis yang tak kunjung reda. Tidak lama kemudian segerombolan siswa SMA1 dan SMA sebelahnya nekat menerobos gerimis dan bertemu tepat ditengah-tengah jalan dan Dug… bentrokanpun tidak dapat dielakkan, kepalan doni dengan telak mengenai perut tirta,titra meringis kesakitan dan merasa mual. Akan tetapi tirta berusaha membalas dengan sekuat tenaga, doni dengan sigap mengelak tinju tirta yang mengarah kepipi kanannya.   Saat kedua kubu saling serang,  prii…t….Mobil patroli datang dengan personil penuh. Sebagian dari anak-anak yang tawuran kabur dengan cepatnya sehingga bisa lepas dari kejaran polisi. Tetapi kebanyakan dari mereka diamankan polisi dan dimasukan kemobil khusus untuk diinterogasi lebih lanjut.
            “ Seharusnya kalian berpikir lebih panjang! Bahwa kelakuan kalian ini telah mencemarkan nama baik sekolah kalian dan juga perbuatan yang TIDAK BERGUNA! ” Suara bapak-bapak berpangkat dibahu kanan dan kirinya terdengar keras dan berwibawa. Kedua kubu nampaknya saling bertatapan sinis seakan ingin melanjutkan perkelahian mereka yang tertunda.
“ Sekarang saya ingin kalian semuanya memanggil orang tua atau keluarga kalian yang bisa diminta pertanggung jawaban untuk semua yang telah kalian lakukan. ” Suara lelaki tua itu sedikit mengeras.
            Disudut ruangan dua orang pemuda sedang duduk berhadapan
”Don,gimana nih? “ Rendi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ Santai aja ren, kalau menurut insting gue nih kita bakalan lolos. “
“gue takut don kalau ketahuan bokap gue, lo tau sendirikan bokap gue orangnya gimana? galaknya minta ampun. Gue nyubit adik gue aja, bokap gue udah mau ngeluarin golok. Apa lagi gue ketahuan tawuran, bisa is dead gua. ”
            Beberapa jam kemudian sudah hampir seluruh anak-anak yang tawuran dijemput orang tuanya masing-masing, walaupun seperempat diantaranya pulang dengan jeweran ditelinga. Sampai menjelang sore doni dan rendipun masih duduk ditempat duduk mereka.
Sebuah sedan keluaran terbaru masuk halaman kantor polisi. Nampak wanita sebaya dan gadis belia yang masih berpakaian seragam putih abu-abu keluar dari sedan yang diparkirkannya dipojok halaman kantor polisi. Setelah berbicara sedikit dengan pak polisi merekapun keruang tempat anak-anak yang tawuran tadi siang ditahan.
            “ Doni…bikin ulah apa lagi sih kamu? ” ibunya langsung mendekati doni.
            “ ngga’ko mah, Cuma tawuran dikit. ” jawab doni enteng.
            “ kamu ngga’  kenapa-napakan? tadi mamah udah ngomong sama pak polisinya, katanya kamu boleh pulang tapi bersyarat. ”
            “ eh iya, rendi diwakilkan mamah aja ya. ” pinta doni.
            “ iya, sekarang kamu mau pulang ikut mamah atau pulang sendiri?, soalnya mamah setelah ini mau belanja dulu dengan dina ”
            “ Doni ikut taxi aja deh mah, kan ada rendi jadi doni ada teman juga ditaxi, ya kan ren. ” rendi mengacungkan jempolnya dibelakang doni.
            “ Ya udah, kalau begitu setelah ini langsung pulang ya ”
            “ oke ” jawab doni pendek.
“ ren yuk cabut ” ajak doni.
 Rendi berdiri dari kursi yang sejak tadi didudukinya sambil melambai-lambai genit kearah dina.
@@@@@
            “ ka’doni….. ” panggil dina yang turun dari tangga kamarnya dan langsung mengambil posisi duduk disebelah doni yang sedang duduk menonton acara televisi.
“ Maafin dina ya soal kemarin, gara-gara dina ka’doni jadi berurusan dengan pak polisi ”
            “ ga’usah dipkirin, entar kalo ada orang yang gangguin kamu lagi bilang aja ya. ” Kata doni sembari mengacak-acak rambut dina.
            “ Makasih ya ka. ” Goda dina
” Oya,malam ini ada acara ga’sih? ”
“ kayaknya ga’ada, emang kenapa? mau ditemanin ke mal? ” Tebak doni
            “ ye…emang kalo minta temenin mesti ke mall gitu ! ” Dina sedikit manyun.
            “ Emang ada acara apaan? ”
            “ Kemarin reny ngundang aku keacara ul-tahnya, jadi temenin aku dong. ” Dina sedikit memohon.
            “ lho, ko’cuman kamu yang diundang, bukan gue?, reny kan satu kelas sama gue. ” Doni agak sedikit bingung.
            “ Tau, tanya aja sendiri sama orangnya. ” Dina tau sebenarnya reni kepengen ngundang doni, tapi setiap kali reni katemu doni, pasti reni bawaannya minder mulu, makanya dina berenesiatif mengajak doni kepesta ultahnya reni.
            “ kayaknya boleh juga, tapi ntar malam jam berapa? ” tanya doni.
Dina sembari melirik hjam mungil dipergelangan tangan kirinya.
” yah kira-kira jam delapan deh, oh iya ka’mamah mana sih?, dari tadi ga kelihatan. ”
            “ Tadi pagi mamah udah paergi kekantor, katanya sih ada urusan penting. ”
            “ Ka’doni nyadar ga’sih, semenjak papah ninggalin mamah kayaknya mamah  tuh jadi super sibuk, sampe-sampe diam dirumah tuh bisa dihitung jam. ” dina termenung sejenak.
            “ udah ah ngapain juga mikirin hal yang udah lalu. ”
            Suara klakson khas mobil sedan terdengar dari luar pagar, Dina bergegas lari keluar pintu untuk menyambut kedatangan mamahnya.
            “ Dina… ” suara lembut keluar dari jendela mobil.
            “Mamah… ” dina senyum gembira serambi membukakan pintu mobil untuk ibunya.
            “ Nih bawa masuk .” ibunya menyodorkan plastik ukuran besar ketangan dina yang melangkah riang masuk rumahnya menuju ruang tamu, dan kembali duduk disebelah doni.
            “ Doni………Dina………udah dimakan belom eskrimnya? Tanya ibunya yang langsung duduk disofa depan mereka.
            “ nih baru mau makan ” kata dinayang  sedang membuka tutup toples es krimnya dengan ukuran jumbo.
            “ Em…enak, mamah paling ngerti deh kesukaan dina. ” Dina mengacungkan kedua  jempolnya.
            “ Doni, kabar sekolah kamu gimana? “
            “ baik. ” jawab doni simple.
            “ Oh iya hampir lupa, mamah tadi siang ditelpon tante rita. Katanya, lyla pengen main kesini “
            “ Emang lyla kenapa diSurabaya mah? ”
            “ Katanya lyla bosen sekolah disurabaya, terus dianya pengen pindah sekolah ke jogja, satu sekolah dengan kalian gitu, terus usul mamah dari pada dia ngekost mendingan tinggal dirumah kita aja, lagian kayaknya sepi juga rumah segede ini ditinggalin Cuma tiga orang ”
            “ Beneran mah? kalau gitu lyla satu kamar sama dina aja deh ”
            “ Doni setuju kan kalau lyla tinggal dirumah kita? ”
            “ yah, entahlah. ” Jawab doni enteng.
            “ ya udah, jadi besok pagi-pagi kalian jemput lyla dibandara ya, ingat doni jangan telat bangunnya ”
            “ ya diusaqhain deh. ”
            “ Kalian jadikan malam ini pergi kepesta ul-tah?, cepet siap-siap kalau gitu entar telat lho ”
            “ mah, malam ini aku pinjem mobil ya. ”
            “ Emang mobil kamu mana? ”
            “ Tadi doni anter ke bengkel mah, baru besok ngambilnya. ”
            “ Iya, sekarang kamu mandi dulu sana, entar dinanya ngambek lagi kalau kamunya telat. ”
            “Siap mah”, doni langsung bergegas menuju kamarnya.
Ibunya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang amat dia sayangi.
@@@@@
 “ Ka’ doni…. “ dina berteriak melengking dari ruang tamu
“ Tunggu betar. ” suara doni dari dalam kamar tidak kalah kerasnya.
“ Udah telat nih ”
” Iya, sabar dikit napa ” Doni turun dari tangga kamernya dengan bersiul. Dina langsung menghampiri doni dan menarik tangannya dengan cepat.
“ Mah dina pergi ya. ” teriak dina.
“ Iya hati-hati ” Suara ibunya terdengar samar dari ruang baca.
@@@@@
            Lampu-lampu beraneka warna terpasang menerangi setiap sudut halaman belakang rumah yang remang, lilin-lilinn terapung menghiasi kolan renang tepat ditengah-tengah segerombolan muda-mudi yang sedang menikmati suasana pesta. Digebang masuk halaman pesta Nampak penerima tamu sedang sibuk menyusun kado-kado yang beragam bentuk, hiasan, dan warna yang berbeda-beda.
            Tepat didepan pintu masuk seorang gadis dengan gaun merah muda dan rambut terurai setengah bahunya ditemani lelaki yang dari tadi agak cuek dengan keadaan disekelilingnya. Beberapa saat setelah mereka datang dengan kebingungan datang seorang cewek dengan gaun mewah warna putih bersih menghampiri mereka.
            “ Hai… “ dina melambaikan tangannya kearah wanita itu.
            “ Dinn ko’ telat sih? “ reny menghampiri mereka.
            “ Gara-gara ka’ doni nih dandannya lama amat, kayak orang mau ngapelin pacar aja. “ Kata dina menunjuk doni yang sedang berpura-pura memperhatikan keadaan disekelilingnya.
            “ Sorry ren, gue kesini tanpa diundang. ”
            “ Aduh, sebenarnya yang minta maaf itu gue, kemarin gue lupa bawa undangan punya lo ” Reny sedikit merasa bersalah. “yuk kita ketempat pesta”, ajak reny.
            “ Din, lo aja ya kesana, gue mau jalan-jalan disekitar sini dulu, kayaknya disana ada makanan faporit gue. ” kata doni sambil melangkah tanpa menghiraukan tatapan tajam dina dan senyum manis reny.
            Doni berjalan santai mengitari suasana pesta, beberapa temannya malah menawarinya ikut nimbrug bareng, tapi doni memilih berkeliling taman pesta yang lumayan luas, sesekeli dia mengambil makanan ringan yang tersedia diatas meja dan memakannya sendirian tanpa peduli orang disekelilingnya. Terlihat teman-teman cewek yang pernah mendekatinya dulu juga sekarang pergi dengan pasangannya masing-masing, hanya saja dia bingung.
“ ko’ rendi ga’ ada ya? Apa dia juga sama lupa diundang reny?  ah ga’ mungkin rendi bisa datang keacara beginian”  tampiknya lagi. Sedang asiknya dengan pikiran sendiri tanpa sengaja doni menabrak cewek yang ada dihadapannya hingga terjatuh.
            “ Eh maaf gue ga… ”Belum sempat doni melanjutkan kata-katanya, cewek itu berdiri dengan cepat dihadapannya.
            “ Kalo jalan peke mata dong! ”, hardik cewek tomboy itu.
            “Kan gue… ”
            Cewek tomboy itu bergegas pergi meninggalkan doni. Doni  tersenyum sendiri setelah apa yang baru saja dilakukannya dengan cewek tadi.
“seandainya saja lo masih ada disisi gue. ” Batin doni.
@@@@@
            Hiruk-pikuk bandara………………membuat siapa saja yang berada  disana pingin cepat-cepat  keluar. Sesekali terdengar suara pengumuman resepsionis yang mengingatkan penumpang akan keberangkatan pesawat yang akan lepas landas.
            “ Ka’ doni, emang pesawatnya masih lama ya? ” Kata dina yang sudah ada dibandara sejak jam tujuh pagi.
            “ Kamu tunggu disini ya, gue kebagian resepsionis dulu, kali aja kita salah jadwal. ” Kta doni sembari berdiri dari tempat duduknya.
            “ Maaf mbak, pesawat jurusan Surabaya-jogja kapanya tibanya? ”
            Wanita itu sesaat membuka data-data yang ada diatas mejanya.
“mungkin sekitar limabelas menit lagi mas. ” Jawab wanita itu ramah.
            Doni berjalan santai kembali ketempat dina yang sedang minum cola yang dibelinya gara-gara takut dehidrasi.
            “ Din mana punya aku? ” Tanya doni kearah dina.
            “ Enak aja, beli sendiri dong. ” Dina kembali meminum colanya dihadapan doni.
            “ Ting….tong…, pesawat lion air boing 767-300 akan segera mendarat. ” Suara speaker bandara beberapa kali bergema.
            “ Ka’ doni kita tunggu disitu yuk, itu pasti pesawat yang ditumpangi lyla, tadi kan ka’ doni bilang pesawat yang itu. ” Kata dina sembari berdiri dari tempat duduknya.
            Mata dina pun tertuju kepada seorang cewek rambut sebahu dan berpakaian serba hitam sedang menggiring kopernya sambil bersiul ria.
            “ ka’ doni, itu lyla kan? ” Dina menyenggol-nyenggol lenagan doni.
            “ yang mana? ” Tanya doni bingung.
            “ Itu… ” dina menunjuk cewek yang dicurigainya sebagai lyla.
            “ Kamu yakin ga’ din? kalau salah orang bisa brabe lo. ” Tanya doni sama ragunya.
            “ Ga’ yakin-yakin amat sih. ” Balas dina kecut.
            “ Lyla! ” teriak doni tanpa menoleh kesiapapun. Dina terkejut seakligus heran akan apa yang dilakukan doni barusan. Wajah doni dibuat selugu mungkin seakan tidak terjadi apa-apa.
 Orang yang dimata-matai dina dari tadi pun menoleh kearah doni dengan bingung.
“Berarti tuh cewek benar-benar lyla ” Kata doni pendek.
            Lyla pun berlari menuju kearah dina dan langsung memeluknya erat. “ dina…. gue kangen banget sama lo. ”
            “ Iya, gue juga. ” Balas dina sambil berusaha melepas pelukan lyla yang membuatnya hampir sesak nafas, tubuh lyla tepat membelakangi doni.
“ Hai… ” sapa doni pada lyla. Tapi lyla masih tertawa ria dengan dina, lyla tidak merasakan ada yang mengganjal ditumit kakinya.
“ Lyla. ” Kata doni agak keras.
“ Ih, apaan sih nih or…. ” kalimat nya terputus saat melihat siapa yang dibentaknya.
“ kaki gue. ” kata doni kalem sambil menahan sakit.
“ Oh my god, ka’ doni kan. ” Kata lyla tanpa rasa bersalah.
“ Mungkin. ” kata doni sambil membuang pandangannya kearah lain, doni sedikit berharap semoga cewek satu ini merasa bersalah walaupun sedikit.
“ Bukan ka’ doni ya? ” Tanya lyla kembali menghadap dina.
“ Mm….ya udah kita pulang yuk, nanti aja marah-marahannya dirumah. ” Kata dina sambil menuntun tangan lyla menuju pintu keluar bandara.
            “ Oh  my god ”  kata doni pelan sambil menepuk kepalanya sendiri.
            Sepanjang perjalanan dina dan lyla saling tukar pengalaman semenjak mereka berpisah sepuluh tahun yang lalu, yang pasti yang paling keras ketawanya adalah lyla. Sampai-sampai beberapa kali doni melihat ke kaca spion penumpang lyla tetap cuek dengan tawanya yang melebihi tawa seorang nenek lampir. Doni yang dongkol setengah mati hanya bisa mengunci mulutnya dan berpikir bagai mana jadinya rumah dia yang tenang kalau ada satu orang nenek lampir yang akan membuat kegaduhan total. “ah itu urusan kedepan lah”, batin doni masih dengan aksi tutup mulutnya.
@@@@@
            Pagi yang cerah, karena mentari baru saja memancarkan sinar emasnya untuk menerangi dunia yang beberapa jam yang lalu gelap gulita karena ditinggal sang surya. “Gdubrak”, suara benda berat yang terjatuh terdengar keras dari kamar dina. Dina terbangun dari lelapnya, melihat lyla sudah tidak ada tidur disampingnya. Namun suara di lantai kamar mengujutkan dina.
            “ Eh, ngapain lo disitu? ” Dina kaget sambil menutup mulutnya menahan tawa karena melihat lyla yang sedang kesakitan memijit-mijit kakinya.
            “ Dasar, bukannya nolongin, malah ngetawain. ” Kata lyla sambil berusaha berdiri dari tempat jatuhnya.
            “ Sakit ngga la? ” Tanya dina sambil membantu lyla memijit kakinya .
            “ Yah agak mendingan sih, karena sudah ada nenek tukang pijit sekarang yang mijitin gue. ” Kata lyla becanda.
            “ Ye… enak aja gue dibilang nenek tukang pijit, lo mandi gih bau tau ngga. ” Kata dina sambil berlari kecil menghindari lemparan bantal yang dilempar lyla.
            Di kamar lain doni mencoba menutup kepalanya dengan bantal dan ingin melanjutkan tidurnya,  karena merasa terganggu dengan keributan pertama di hari yang sangat pagi untuk bangun menurutnya.
           
            “ Sebenarnya gue mau protes nih sama mamah, masa gue harus ngantar lo bedua kesekolah, terus kalau kaliannya telat pulang masa gue harus nunggu, bengong kayak burung bego. ” Kata doni mengomel sambil mengemudi. Sebenarnya doni masih agak dongkol gara-gara pagi tadi tidurnya terganggu oleh suara ribut disebelah kamarnya.
            “ Ya udah, turunin kami disini! ” Kata dina ngambek.
            Doni melirik dina dari kaca spion pengemudi.
“ ha ha ha… gitu aja ngambek, lagi pula percuma gue nurunin kalian disini, orang ini sudah ditempat parker. ” Kata doni sambil tertawa.
            “ Dina, entar pulang cepetan ya, gue ga’ mau nunggu. ” Kata doni sebelum mereka berpisah di tangga menuju kelas II dan III.
            “ Mat pagi doni… ” Kata dewi menyapa doni yang sedang lewat di depannya. Merasa diacuhkan dewi mencoba bangkit dari tempat duduknya dan berjalan disamping doni.
            “ Doni, siapa sih cewek barusan yang ikut dimobil lo, perasaan selama ini lo cuma berangkat kesekolah sama dina aja deh. ” kata dewi nyerocos.
            “ Doni, jawab dong. ” Kata dewi sambil meraih tangan doni untuk dipeluknya. Namun, doni dapat menepisnya.
 “ Dewi, sudah deh gue udah bilang kan dari dulu kalau gue lagi ga’ suka deket-deket sama lo, dan ingat, siapapun cewek yang gue tumpangin di mobil gue, itu bukan urusan lo. ” Doni mempercepat langkahnya menuju kelas dan meninggalkan dewi yang cemberut sendirian.
Di kelas lain lyla sangat cepat beradaptasi dengan teman-temannya, mereka saling bercanda tawa sebelum akhirnya lonceng masuk kelas berbunyi.
            “ Selamat pagi anak-anak. ” Kata seorang wanita brjalan pelan menuju kursi dibelakang meja guru sambil mengumbar senyum yang lumayan lama.
“ Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru, dan ibu harap kalian menjalin pertemanan yang baik. Nak’ lyla silakan maju kedepan untuk memperkenalkan diri. ”
Lyla maju kedepan dengan pede nya.
“ Nama gue lyla putri, nama akrab gue lyla. Mungkin itu saja perkenalan dari gue, yah seiring berjalannya waktu lo pasti lebih banyak mengenal gue selain Cuma tau nama gue, Terimakasih. ” Kata lyla dan langsung menuju tempat duduknya tanpa mmenghiraukan teman-temannya yang bingung sekaligus takut akan apa yang dilakukannya barusan. Mereka takut karena ibu guru yang satu ini terkenal suka marah-marah apabila ada anak didiknya yang berperilaku semaunya.
Suasana kelas yang awalnya santai kini mulai tegang. Seluruh murid kini tinggal menghitung detik untuk kemarahan sang guru yang masih berdiam diri dikursi tempat duduknya. Alhasil, dari mulai jam pertama sampai pelajaran guru itu selesai mereka satu kelas mendapat ceramah besar-besaran tanpa satu lembar buku pun terbuka untuk menerima materi.
Dalam jangka waktu hanya satu haripun lyla sudah mengenal teman-teman satu kelasnya. Mungkin mereka menganggap lyla adalah spesies baru yang unik yang tanpa pandang bulu bisa bergaul dengan siapapun, dan itulah salah satu itulah kelebihan yang jarang dimiliki orang lain.
Akhirnya hari pertama lyla disekolah kesannya lumayan menyenangkan. Teman lyla baik yang cowok maupun cewek bisa saling tertawa renyah setelah kejadian pagi tadi.
“ la, cepetan yuk entar ka’ doni marah-marah. ” Kata dina memperingatkan lyla yang sedang asik bercanda dengan salah seorang teman barunya.
“Oh iya gue lupa, duluan ya”. Kata lyla berdiri dari bangkunya sambil membawa tasnya keluar kelas.
Begitu lyla dan dina turun dari tangga kelas, ternyata disana sudah ada dewi dan teman-temannya seolah menjaga tangga yang akan mereka lalui.
“ Lo anak baru, lo ada hubungan apa sama doni?, peke acara nebeng di mobilnya lagi. ” Tanya dewi yang baru saja mencegat lyla yang ingin lewat. Lyla mencoba tidak menggubris pertanyaan dewi, sekali laggi ia mencoba menerobos hadangan dewi cs.
“  sebelum lo menjawab pertanyaan gue, lo ga’ boleh lewat  sini. ” Tantang dewi. Sejenak mata mereka saling beradu cukup lama. Dina yang merasakan sebentar lagi aka nada adegan cakarpun segera mengambil tindakan.
“ Dewi, kalau lo ga’ bolehin lyla lewat lo bakalan gue aduin sama ka’ doni. ” Kata dina cepat.
 “ Jangan coba-coba deketin doni. ” Kata dewi berbisik pelan ditelinga lyla sebelu mereka meninggalkannya.
Akhirnya dimobil lyla hanya sedikit bicara karena menahan dongkol yang luar biasa dihatinya.
“ Kenapa tadi ga’ gue tonjok aja muka tuh cewek. ” Batin lyla setelah mereka sampai dirumah.

(bersambung....)