Three love
Prolog
“ Ra…gue harap lo
bahagia disurga, gue janji gue ga’bakalan deket-deket lagi dengan yang namanya
olahraga basket, air yang turun dari
langit hari ini adalah saksi janji gue ke lo. ”
“
Ra…kenapa lo harus pergi secepat ini….......” Tubuh remaja muda itu berlutut
disamping batu nisan yang basah diguyur hujan sore itu, air diwajah pemuda itu
bercampur dengan air matanya yang mengucur deras. Sedari tadi orang-orang
disekelilingnya mulai menjauh. Hanya dirinya dan seorang lagi yang selalu setia
menunggunya.
Lelaki dihadapannya
terus menangis dan merasa bersalah atas apa saja yang baru saja dilakukannya. Kepalanya
tertunduk lemas.
”
Ra, gue janji gue ga’bakalan melanggar perkataan gue. ” Pemuda itu berdiri
bertepatan dengan berhentinya hujan deras disekeliling mereka, lalu meninggalkan
tempat itu diikuti sahabat yang selalu ada untuknya.
1
Garimis siang mengguyur
kota jogja, genangan airpun menjadi santapan para pengguna jalan hari itu. Nampak
dihalaman sekolah SMA1 siswa-siswa sedang berteduh menunggu gerimis yang tak
kunjung reda. Tidak lama kemudian segerombolan siswa SMA1 dan SMA sebelahnya
nekat menerobos gerimis dan bertemu tepat ditengah-tengah jalan dan Dug… bentrokanpun
tidak dapat dielakkan, kepalan doni dengan telak mengenai perut tirta,titra
meringis kesakitan dan merasa mual. Akan tetapi tirta berusaha membalas dengan
sekuat tenaga, doni dengan sigap mengelak tinju tirta yang mengarah kepipi
kanannya. Saat kedua kubu saling
serang, prii…t….Mobil patroli datang
dengan personil penuh. Sebagian dari anak-anak yang tawuran kabur dengan
cepatnya sehingga bisa lepas dari kejaran polisi. Tetapi kebanyakan dari mereka
diamankan polisi dan dimasukan kemobil khusus untuk diinterogasi lebih lanjut.
“ Seharusnya kalian berpikir lebih panjang! Bahwa
kelakuan kalian ini telah mencemarkan nama baik sekolah kalian dan juga perbuatan
yang TIDAK BERGUNA! ” Suara bapak-bapak berpangkat dibahu kanan dan kirinya
terdengar keras dan berwibawa. Kedua kubu nampaknya saling bertatapan sinis seakan
ingin melanjutkan perkelahian mereka yang tertunda.
“
Sekarang saya ingin kalian semuanya memanggil orang tua atau keluarga kalian
yang bisa diminta pertanggung jawaban untuk semua yang telah kalian lakukan. ” Suara
lelaki tua itu sedikit mengeras.
Disudut ruangan dua orang pemuda sedang duduk berhadapan
”Don,gimana
nih? “ Rendi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“
Santai aja ren, kalau menurut insting gue nih kita bakalan lolos. “
“gue
takut don kalau ketahuan bokap gue, lo tau sendirikan bokap gue orangnya
gimana? galaknya minta ampun. Gue nyubit adik gue aja, bokap gue udah mau
ngeluarin golok. Apa lagi gue ketahuan tawuran, bisa is dead gua. ”
Beberapa jam kemudian sudah hampir seluruh anak-anak yang
tawuran dijemput orang tuanya masing-masing, walaupun seperempat diantaranya
pulang dengan jeweran ditelinga. Sampai menjelang sore doni dan rendipun masih
duduk ditempat duduk mereka.
Sebuah
sedan keluaran terbaru masuk halaman kantor polisi. Nampak wanita sebaya dan
gadis belia yang masih berpakaian seragam putih abu-abu keluar dari sedan yang
diparkirkannya dipojok halaman kantor polisi. Setelah berbicara sedikit dengan
pak polisi merekapun keruang tempat anak-anak yang tawuran tadi siang ditahan.
“ Doni…bikin ulah apa lagi sih kamu? ” ibunya langsung
mendekati doni.
“ ngga’ko mah, Cuma tawuran dikit. ” jawab doni enteng.
“ kamu ngga’ kenapa-napakan?
tadi mamah udah ngomong sama pak polisinya, katanya kamu boleh pulang tapi
bersyarat. ”
“ eh iya, rendi diwakilkan mamah aja ya. ” pinta doni.
“ iya, sekarang kamu mau pulang ikut mamah atau pulang
sendiri?, soalnya mamah setelah ini mau belanja dulu dengan dina ”
“ Doni ikut taxi aja deh mah, kan ada rendi jadi doni ada
teman juga ditaxi, ya kan ren. ” rendi mengacungkan jempolnya dibelakang doni.
“ Ya udah, kalau begitu setelah ini langsung pulang ya ”
“ oke ” jawab doni pendek.
“
ren yuk cabut ” ajak doni.
Rendi berdiri dari kursi yang sejak tadi
didudukinya sambil melambai-lambai genit kearah dina.
@@@@@
“ ka’doni….. ” panggil
dina yang turun dari tangga kamarnya dan langsung mengambil posisi duduk
disebelah doni yang sedang duduk menonton acara televisi.
“
Maafin dina ya soal kemarin, gara-gara dina ka’doni jadi berurusan dengan pak
polisi ”
“ ga’usah dipkirin, entar kalo ada orang yang gangguin
kamu lagi bilang aja ya. ” Kata doni sembari mengacak-acak rambut dina.
“ Makasih ya ka. ” Goda dina
”
Oya,malam ini ada acara ga’sih? ”
“
kayaknya ga’ada, emang kenapa? mau ditemanin ke mal? ” Tebak doni
“ ye…emang kalo minta temenin mesti ke mall gitu ! ” Dina
sedikit manyun.
“ Emang ada acara apaan? ”
“ Kemarin reny ngundang aku keacara ul-tahnya, jadi
temenin aku dong. ” Dina sedikit memohon.
“ lho, ko’cuman kamu yang diundang, bukan gue?, reny kan
satu kelas sama gue. ” Doni agak sedikit bingung.
“ Tau, tanya aja sendiri sama orangnya. ” Dina tau
sebenarnya reni kepengen ngundang doni, tapi setiap kali reni katemu doni, pasti
reni bawaannya minder mulu, makanya dina berenesiatif mengajak doni kepesta
ultahnya reni.
“ kayaknya boleh juga, tapi ntar malam jam berapa? ” tanya
doni.
Dina sembari melirik
hjam mungil dipergelangan tangan kirinya.
” yah kira-kira jam
delapan deh, oh iya ka’mamah mana sih?, dari tadi ga kelihatan. ”
“ Tadi pagi mamah udah paergi kekantor, katanya sih ada
urusan penting. ”
“ Ka’doni nyadar ga’sih, semenjak papah ninggalin mamah
kayaknya mamah tuh jadi super sibuk, sampe-sampe
diam dirumah tuh bisa dihitung jam. ” dina termenung sejenak.
“ udah ah ngapain juga mikirin hal yang udah lalu. ”
Suara klakson khas mobil sedan terdengar dari luar pagar,
Dina bergegas lari keluar pintu untuk menyambut kedatangan mamahnya.
“ Dina… ” suara lembut keluar dari jendela mobil.
“Mamah… ” dina senyum gembira serambi membukakan pintu
mobil untuk ibunya.
“ Nih bawa masuk .” ibunya menyodorkan plastik ukuran
besar ketangan dina yang melangkah riang masuk rumahnya menuju ruang tamu, dan kembali
duduk disebelah doni.
“ Doni………Dina………udah dimakan belom eskrimnya? Tanya
ibunya yang langsung duduk disofa depan mereka.
“ nih baru mau makan ” kata dinayang sedang membuka tutup toples es krimnya dengan
ukuran jumbo.
“ Em…enak, mamah paling ngerti deh kesukaan dina. ” Dina
mengacungkan kedua jempolnya.
“ Doni, kabar sekolah kamu gimana? “
“ baik. ” jawab doni simple.
“ Oh iya hampir lupa, mamah tadi siang ditelpon tante
rita. Katanya, lyla pengen main kesini “
“ Emang lyla kenapa diSurabaya mah? ”
“ Katanya lyla bosen sekolah disurabaya, terus dianya
pengen pindah sekolah ke jogja, satu sekolah dengan kalian gitu, terus usul
mamah dari pada dia ngekost mendingan tinggal dirumah kita aja, lagian kayaknya
sepi juga rumah segede ini ditinggalin Cuma tiga orang ”
“ Beneran mah? kalau gitu lyla satu kamar sama dina aja
deh ”
“ Doni setuju kan kalau lyla tinggal dirumah kita? ”
“ yah, entahlah. ” Jawab doni enteng.
“ ya udah, jadi besok pagi-pagi kalian jemput lyla
dibandara ya, ingat doni jangan telat bangunnya ”
“ ya diusaqhain deh. ”
“ Kalian jadikan malam ini pergi kepesta ul-tah?, cepet
siap-siap kalau gitu entar telat lho ”
“ mah, malam ini aku pinjem mobil ya. ”
“ Emang mobil kamu mana? ”
“ Tadi doni anter ke bengkel mah, baru besok ngambilnya.
”
“ Iya, sekarang kamu mandi dulu sana, entar dinanya
ngambek lagi kalau kamunya telat. ”
“Siap mah”, doni langsung bergegas menuju kamarnya.
Ibunya
tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang amat dia sayangi.
@@@@@
“ Ka’ doni…. “ dina berteriak melengking dari
ruang tamu
“ Tunggu betar. ” suara
doni dari dalam kamar tidak kalah kerasnya.
“ Udah telat nih ”
” Iya, sabar dikit napa
” Doni turun dari tangga kamernya dengan bersiul. Dina langsung menghampiri
doni dan menarik tangannya dengan cepat.
“ Mah dina pergi ya. ”
teriak dina.
“ Iya hati-hati ” Suara
ibunya terdengar samar dari ruang baca.
@@@@@
Lampu-lampu
beraneka warna terpasang menerangi setiap sudut halaman belakang rumah yang
remang, lilin-lilinn terapung menghiasi kolan renang tepat ditengah-tengah
segerombolan muda-mudi yang sedang menikmati suasana pesta. Digebang masuk
halaman pesta Nampak penerima tamu sedang sibuk menyusun kado-kado yang beragam
bentuk, hiasan, dan warna yang berbeda-beda.
Tepat didepan pintu masuk seorang gadis dengan gaun merah
muda dan rambut terurai setengah bahunya ditemani lelaki yang dari tadi agak
cuek dengan keadaan disekelilingnya. Beberapa saat setelah mereka datang dengan
kebingungan datang seorang cewek dengan gaun mewah warna putih bersih
menghampiri mereka.
“ Hai… “ dina melambaikan tangannya kearah wanita itu.
“ Dinn ko’ telat sih? “ reny menghampiri mereka.
“ Gara-gara ka’ doni nih dandannya lama amat, kayak orang
mau ngapelin pacar aja. “ Kata dina menunjuk doni yang sedang berpura-pura memperhatikan
keadaan disekelilingnya.
“ Sorry ren, gue kesini tanpa diundang. ”
“ Aduh, sebenarnya yang minta maaf itu gue, kemarin gue
lupa bawa undangan punya lo ” Reny sedikit merasa bersalah. “yuk kita ketempat
pesta”, ajak reny.
“ Din, lo aja ya kesana, gue mau jalan-jalan disekitar
sini dulu, kayaknya disana ada makanan faporit gue. ” kata doni sambil
melangkah tanpa menghiraukan tatapan tajam dina dan senyum manis reny.
Doni berjalan santai mengitari suasana pesta, beberapa
temannya malah menawarinya ikut nimbrug bareng, tapi doni memilih berkeliling
taman pesta yang lumayan luas, sesekeli dia mengambil makanan ringan yang
tersedia diatas meja dan memakannya sendirian tanpa peduli orang
disekelilingnya. Terlihat teman-teman cewek yang pernah mendekatinya dulu juga
sekarang pergi dengan pasangannya masing-masing, hanya saja dia bingung.
“ ko’ rendi ga’ ada ya?
Apa dia juga sama lupa diundang reny? ah
ga’ mungkin rendi bisa datang keacara beginian” tampiknya lagi. Sedang asiknya dengan pikiran
sendiri tanpa sengaja doni menabrak cewek yang ada dihadapannya hingga
terjatuh.
“ Eh maaf gue ga… ”Belum sempat doni melanjutkan
kata-katanya, cewek itu berdiri dengan cepat dihadapannya.
“ Kalo jalan peke mata dong! ”, hardik cewek tomboy itu.
“Kan gue… ”
Cewek tomboy itu bergegas pergi meninggalkan doni.
Doni tersenyum sendiri setelah apa yang baru
saja dilakukannya dengan cewek tadi.
“seandainya
saja lo masih ada disisi gue. ” Batin doni.
@@@@@
Hiruk-pikuk
bandara………………membuat siapa saja yang berada
disana pingin cepat-cepat keluar.
Sesekali terdengar suara pengumuman resepsionis yang mengingatkan penumpang
akan keberangkatan pesawat yang akan lepas landas.
“ Ka’ doni, emang pesawatnya masih
lama ya? ” Kata dina yang sudah ada dibandara sejak jam tujuh pagi.
“ Kamu tunggu disini ya, gue
kebagian resepsionis dulu, kali aja kita salah jadwal. ” Kta doni sembari
berdiri dari tempat duduknya.
“ Maaf mbak, pesawat jurusan
Surabaya-jogja kapanya tibanya? ”
Wanita itu sesaat membuka data-data
yang ada diatas mejanya.
“mungkin
sekitar limabelas menit lagi mas. ” Jawab wanita itu ramah.
Doni berjalan santai kembali
ketempat dina yang sedang minum cola yang dibelinya gara-gara takut dehidrasi.
“ Din mana punya aku? ” Tanya doni
kearah dina.
“ Enak aja, beli sendiri dong. ”
Dina kembali meminum colanya dihadapan doni.
“ Ting….tong…, pesawat lion air
boing 767-300 akan segera mendarat. ” Suara speaker bandara beberapa kali
bergema.
“ Ka’ doni kita tunggu disitu yuk,
itu pasti pesawat yang ditumpangi lyla, tadi kan ka’ doni bilang pesawat yang
itu. ” Kata dina sembari berdiri dari tempat duduknya.
Mata dina pun tertuju kepada seorang
cewek rambut sebahu dan berpakaian serba hitam sedang menggiring kopernya
sambil bersiul ria.
“ ka’ doni, itu lyla kan? ” Dina
menyenggol-nyenggol lenagan doni.
“ yang mana? ” Tanya doni bingung.
“ Itu… ” dina menunjuk cewek yang
dicurigainya sebagai lyla.
“ Kamu yakin ga’ din? kalau salah
orang bisa brabe lo. ” Tanya doni sama ragunya.
“ Ga’ yakin-yakin amat sih. ” Balas
dina kecut.
“ Lyla! ” teriak doni tanpa menoleh
kesiapapun. Dina terkejut seakligus heran akan apa yang dilakukan doni barusan.
Wajah doni dibuat selugu mungkin seakan tidak terjadi apa-apa.
Orang yang dimata-matai dina dari tadi pun
menoleh kearah doni dengan bingung.
“Berarti
tuh cewek benar-benar lyla ” Kata doni pendek.
Lyla pun berlari menuju kearah dina
dan langsung memeluknya erat. “ dina…. gue kangen banget sama lo. ”
“ Iya, gue juga. ” Balas dina sambil
berusaha melepas pelukan lyla yang membuatnya hampir sesak nafas, tubuh lyla
tepat membelakangi doni.
“
Hai… ” sapa doni pada lyla. Tapi lyla masih tertawa ria dengan dina, lyla tidak
merasakan ada yang mengganjal ditumit kakinya.
“
Lyla. ” Kata doni agak keras.
“
Ih, apaan sih nih or…. ” kalimat nya terputus saat melihat siapa yang
dibentaknya.
“
kaki gue. ” kata doni kalem sambil menahan sakit.
“
Oh my god, ka’ doni kan. ” Kata lyla tanpa rasa bersalah.
“
Mungkin. ” kata doni sambil membuang pandangannya kearah lain, doni sedikit
berharap semoga cewek satu ini merasa bersalah walaupun sedikit.
“
Bukan ka’ doni ya? ” Tanya lyla kembali menghadap dina.
“
Mm….ya udah kita pulang yuk, nanti aja marah-marahannya dirumah. ” Kata dina
sambil menuntun tangan lyla menuju pintu keluar bandara.
“ Oh my god ” kata doni pelan sambil menepuk kepalanya
sendiri.
Sepanjang perjalanan dina dan lyla saling tukar
pengalaman semenjak mereka berpisah sepuluh tahun yang lalu, yang pasti yang
paling keras ketawanya adalah lyla. Sampai-sampai beberapa kali doni melihat ke
kaca spion penumpang lyla tetap cuek dengan tawanya yang melebihi tawa seorang
nenek lampir. Doni yang dongkol setengah mati hanya bisa mengunci mulutnya dan
berpikir bagai mana jadinya rumah dia yang tenang kalau ada satu orang nenek
lampir yang akan membuat kegaduhan total. “ah itu urusan kedepan lah”, batin
doni masih dengan aksi tutup mulutnya.
@@@@@
Pagi yang cerah, karena
mentari baru saja memancarkan sinar emasnya untuk menerangi dunia yang beberapa
jam yang lalu gelap gulita karena ditinggal sang surya. “Gdubrak”, suara benda
berat yang terjatuh terdengar keras dari kamar dina. Dina terbangun dari
lelapnya, melihat lyla sudah tidak ada tidur disampingnya. Namun suara di
lantai kamar mengujutkan dina.
“ Eh, ngapain lo disitu? ” Dina kaget sambil menutup
mulutnya menahan tawa karena melihat lyla yang sedang kesakitan memijit-mijit
kakinya.
“ Dasar, bukannya nolongin, malah ngetawain. ” Kata lyla
sambil berusaha berdiri dari tempat jatuhnya.
“ Sakit ngga la? ” Tanya dina sambil membantu lyla
memijit kakinya .
“ Yah agak mendingan sih, karena sudah ada nenek tukang
pijit sekarang yang mijitin gue. ” Kata lyla becanda.
“ Ye… enak aja gue dibilang nenek tukang pijit, lo mandi
gih bau tau ngga. ” Kata dina sambil berlari kecil menghindari lemparan bantal
yang dilempar lyla.
Di kamar lain doni mencoba menutup kepalanya dengan
bantal dan ingin melanjutkan tidurnya,
karena merasa terganggu dengan keributan pertama di hari yang sangat
pagi untuk bangun menurutnya.
“ Sebenarnya gue mau protes nih sama mamah, masa gue
harus ngantar lo bedua kesekolah, terus kalau kaliannya telat pulang masa gue
harus nunggu, bengong kayak burung bego. ” Kata doni mengomel sambil mengemudi.
Sebenarnya doni masih agak dongkol gara-gara pagi tadi tidurnya terganggu oleh
suara ribut disebelah kamarnya.
“ Ya udah, turunin kami disini! ” Kata dina ngambek.
Doni melirik dina dari kaca spion pengemudi.
“
ha ha ha… gitu aja ngambek, lagi pula percuma gue nurunin kalian disini, orang
ini sudah ditempat parker. ” Kata doni sambil tertawa.
“ Dina, entar pulang cepetan ya, gue ga’ mau nunggu. ”
Kata doni sebelum mereka berpisah di tangga menuju kelas II dan III.
“ Mat pagi doni… ” Kata dewi menyapa doni yang sedang
lewat di depannya. Merasa diacuhkan dewi mencoba bangkit dari tempat duduknya
dan berjalan disamping doni.
“ Doni, siapa sih cewek barusan yang ikut dimobil lo,
perasaan selama ini lo cuma berangkat kesekolah sama dina aja deh. ” kata dewi
nyerocos.
“ Doni, jawab dong. ” Kata dewi sambil meraih tangan doni
untuk dipeluknya. Namun, doni dapat menepisnya.
“ Dewi, sudah deh gue udah bilang kan dari
dulu kalau gue lagi ga’ suka deket-deket sama lo, dan ingat, siapapun cewek
yang gue tumpangin di mobil gue, itu bukan urusan lo. ” Doni mempercepat
langkahnya menuju kelas dan meninggalkan dewi yang cemberut sendirian.
Di
kelas lain lyla sangat cepat beradaptasi dengan teman-temannya, mereka saling
bercanda tawa sebelum akhirnya lonceng masuk kelas berbunyi.
“ Selamat pagi anak-anak. ” Kata
seorang wanita brjalan pelan menuju kursi dibelakang meja guru sambil mengumbar
senyum yang lumayan lama.
“
Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru, dan ibu harap kalian menjalin
pertemanan yang baik. Nak’ lyla silakan maju kedepan untuk memperkenalkan diri.
”
Lyla
maju kedepan dengan pede nya.
“
Nama gue lyla putri, nama akrab gue lyla. Mungkin itu saja perkenalan dari gue,
yah seiring berjalannya waktu lo pasti lebih banyak mengenal gue selain Cuma
tau nama gue, Terimakasih. ” Kata lyla dan langsung menuju tempat duduknya
tanpa mmenghiraukan teman-temannya yang bingung sekaligus takut akan apa yang
dilakukannya barusan. Mereka takut karena ibu guru yang satu ini terkenal suka
marah-marah apabila ada anak didiknya yang berperilaku semaunya.
Suasana
kelas yang awalnya santai kini mulai tegang. Seluruh murid kini tinggal
menghitung detik untuk kemarahan sang guru yang masih berdiam diri dikursi
tempat duduknya. Alhasil, dari mulai jam pertama sampai pelajaran guru itu
selesai mereka satu kelas mendapat ceramah besar-besaran tanpa satu lembar buku
pun terbuka untuk menerima materi.
Dalam
jangka waktu hanya satu haripun lyla sudah mengenal teman-teman satu kelasnya.
Mungkin mereka menganggap lyla adalah spesies baru yang unik yang tanpa pandang
bulu bisa bergaul dengan siapapun, dan itulah salah satu itulah kelebihan yang
jarang dimiliki orang lain.
Akhirnya
hari pertama lyla disekolah kesannya lumayan menyenangkan. Teman lyla baik yang
cowok maupun cewek bisa saling tertawa renyah setelah kejadian pagi tadi.
“
la, cepetan yuk entar ka’ doni marah-marah. ” Kata dina memperingatkan lyla
yang sedang asik bercanda dengan salah seorang teman barunya.
“Oh
iya gue lupa, duluan ya”. Kata lyla berdiri dari bangkunya sambil membawa
tasnya keluar kelas.
Begitu
lyla dan dina turun dari tangga kelas, ternyata disana sudah ada dewi dan
teman-temannya seolah menjaga tangga yang akan mereka lalui.
“
Lo anak baru, lo ada hubungan apa sama doni?, peke acara nebeng di mobilnya
lagi. ” Tanya dewi yang baru saja mencegat lyla yang ingin lewat. Lyla mencoba
tidak menggubris pertanyaan dewi, sekali laggi ia mencoba menerobos hadangan
dewi cs.
“
sebelum lo menjawab pertanyaan gue, lo
ga’ boleh lewat sini. ” Tantang dewi.
Sejenak mata mereka saling beradu cukup lama. Dina yang merasakan sebentar lagi
aka nada adegan cakarpun segera mengambil tindakan.
“
Dewi, kalau lo ga’ bolehin lyla lewat lo bakalan gue aduin sama ka’ doni. ”
Kata dina cepat.
“ Jangan coba-coba deketin doni. ” Kata dewi berbisik
pelan ditelinga lyla sebelu mereka meninggalkannya.
Akhirnya
dimobil lyla hanya sedikit bicara karena menahan dongkol yang luar biasa
dihatinya.
“
Kenapa tadi ga’ gue tonjok aja muka tuh cewek. ” Batin lyla setelah mereka
sampai dirumah.
(bersambung....)