Selasa, 20 Maret 2012

three ;love 3


3
Banyak yang keliru akan menilai dua bersaudara reny  dan nadia. Tidak sedikit orang mengira bahwa mereka hanya menjalin sahabat biasa. Contohnya saja dina yang sebelum mengenal reny ia mengira bahwa nadia adalah sahabatnya. Tetapi setelah reny dan dina tergabung dalam kepanitiaan PMR yang reny merupakan seniornya dina. Dina yang kala itu ingin konsultasi masalah kepanitiaan berkunjung kerumah reny dan menemukan nadia disana, dan baru sadar kalau reny dan nadia adalah saudara kandung.
Kekeliruan itu memang tidak luput dari pebedaan mereka berdua yang begitu kentara.
Reny dengan wajah cantiknya dan sifatnya yang agak feminim. Dan nadia yang walaupun juga cantik tertapi sifatnya yang terkesan tomboy dan acuh terhadap orang lain membuat kedua bersaudara itu tidak layak disebut sebagai saudara setelah bertanya dengan malu-malu ke renynya sendiri.
Tetapi dibalik semua itu mereka mempunyai kenangan yang teramat pedih sehingga menciptakan perbedaan yang segnifikan antara keduanya.
Semua berawal dari pertengkaran kedua orang tuanya saat mereka tinggal di negri paman sam. Reny yang saat itu masih berumur tiga tahun hanya bisa menangis saat melihat tamparan bapaknya mendarat dipipi kanan ibunya. Sedangkan nadia masih dalam kandungan ibuinya, reny kecil yang melihat pertengkaran orang tuanya trauma mulai saat itu.
Setelah apa yuang terjadi, reny kecil dan ibunya menuju bandara dan pergi meninggalkan bapaknya menuju tempat kelahiran ibunya dipedesaan jogja dan tinggal ditempat saudara ibunya untuk sementara, dan disitulah ibunya melahirkan nadia.
Pergaulan lingkungan mereka yang baru ternyata sangat keras. Hampir setiap malam terdengar suara para pemuda yang mabuk-mabukan, berjudi dan perkelahian.
Selama beberapa tahun mereka tinggal disana, dan disitulah nadia tumbuh dan berkembang hingga ibunya mendapat berita bahwa suaminya yang di Amerika meninggal dunia dan semua warisannya jatuh ketangan ibunya yang membuat mereka pindah keperkotaan sekaligus membuat ibunya super sibuk dengan urusan bisnis yang ditinggalkan suaminya.   
Dibalik sosok nadia yang sering acuh dan tomboy sebenarnya ia memiliki sifat manja terhadap ibunya, hanya kepada ibunyalah ia mencurahkan rasa sayangnya karena sejak kecil ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan sang ayah, ia hanya tahu sang ayah meninggal dan tidak pernah tahu semua yang terjadi antara ayah dan ibunya sejak ia masih dalam kandungan, reny dan ibunya sengaja menyembunyikan semua agar nadia tidak merasa benci terhadap ayahnya.
Pernah nadia sakit karena ibunya hampir satu bulan tidak pulang kerumah karena urusan bisnis diAmerika. Ia hanya bisa berbaring dikamarnya, Obat yang diberikan dokter pribadi merekapun tidak diminumnya karena yang ia ingin sekarang ialah belaian dari sang ibu yang dirinduinya.
Satu minggu sudah nadia berbaring dikasurnya, berbagai macam cara pun dilakukan reny agar nadia mau meminum obat yang telah diberikan dokter padanya. Beberapa kali reny menhubungi ibunya lewat ponsel, tetapi yang ada hanya suara operator ponsel yang sedang mengatakan kalau pemilik nomor sedang sibuk.
“ kamu minum obatnya ya.. ” bujuk reny untuk kesekian kalinya.
Tetapi bujukan itu lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala dika.
.....
Trang !! suara benda yang pecah mengagetkan reny yang baru pulang dari sekolah. Rany buru-buru menuju kamar nadia, dilihatnya wajah nadia pucat pasi dan sesekali meletakan tangan nya di dahi nadia untuk mencek panas tubuhnya yang meningkat dari hari sebelumnya. Reny memupuh nadia menuju mobil dan membawa nadia kerumah sakit terdekat.
Reny dengan baju sekolahnya cemas menunggu nadia diruang tunggu rumah sakit, sambil mencoba menghubungi nomor ibunya berulang kali. Tidak terasa air mata reny membasahi pipinya. “kenapa mamah tidak datang disaat semua memerlukan belaiannya, tidakah mamah sadar kalau kebahagiaan tidak hanya terdapat pada uang. ” sebenarnya reny juga rindu akan belaian ibunya, tetapi ia mencoba berpikir agak dewasa dan memaklumi kesibukan ibunya. Tetapi sekarang bukan saat yang tepat untuk memaklumi keadaan, perlahan ia juga ingin protes pada ibunya yang sering meninggalkan mereka.
Suara ponsel ditasnya menyadarkan reny dari lamunannya.
“ Reny kamu dimana sih ? ko’ rumah ga’ dikunci?. ” suara itu tidak asing lagi ditelinga reny.
“ Mamah! sekarang aku dirumah sakit, nadia lagi sakit  mah. ” Kata reny yang tiba-tiba panik.
“ Oke, kamu tenang ya sayang mamah kesana sekarang. ”
Sepuluh menit kemudian ibunya sudah berada dirumah sakit dan bergegas menuju kamar yang disebutkan reny, dengan sigap wanita itu membuka kamar dan menemukan reny sedang duduk disamping dika yang terbaring lemah.
“ Mamah .” sambut reny begitu melihat yang datang adalah ibunya.
Ibunya langsung mengambil posisi duduk disamping reny dan membelai ranbutnya mesra.
“ Ma..h. ” panggil nadia dengan suara yang agak dipaksakan.
“ Sayang jangan bergerak dulu ya. ” pinta ibunya sambil menggenggam tangan nadia.
“ Maafin mamah ya sayang, tadi ka’ reny udah cerita ke mamah kenapa kamu sampai kayak gini. ”
Nadia menganggukan kepalanya dengan manja. “ tapi mamah janji ya jangan pergi-pergi lagi. ” Nadia memegang erat tangan ibunya.
“ Iya, kemarin mamah udah bilang ke om kamu kalau perusahaan bapak om kamu yang urus, jadi sekarang mamah gaselalu setia disamping nadia. ” kata ibunya tersenyum penuh sayang.
“ Nadia sayang mamah. ” Balas nadia tersenyum manja.
Ibunya tersenyum mesra sambil menggandeng bahu reny yang juga ikut bahagia karena keluarga yang diidamkan nya akan kembali seperti dulu lagi.

Sabtu, 03 Maret 2012

three love


2
Dug…, buku kecil berbentuk persegi dilempar begitu saja diatas kasur empuk yang sedang dinikmati sang pemiliknya. Sejenak ia memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak pesta ulangtahun yang kemarin dihadirinya walaupun tanpa memiliki undangan.
“ ka’ doni, makan malam dulu. ” Teriak dina keras dari luar kamarnya. Doni melepas semua yang sedang dipikirkannya dan bergegas keluar kamarnya menuju ruang makan.
“ Malam sayang. ” Suara khas yang lembut menyambut doni yang sedang duduk dikursi makan. Doni hanya senyum membalas sapaan ibunya. Sementara dina dan lyla sudah siap menyantap makanan yang ada dihadapan mereka.
“ Yuk makan. ” Kata dina memulai sambil mengambil alat makannya diikuti lyla.
“ Ka’ doni, ko’ngelamun? Entar kehabisan lo. ” Kata dina sambil mengambil lauk kedalam piringnya. Lyla tidak bisa ngomong dan hanya manggut-manggut sambil mengiyakan. Doni tersenyum melihat lyla yang tembem karena pipinya penuh dengan makanan.
“ Mah, doni kenyang ” Kata doni berdiri meninggalkan meja makan menuju kekamarnya kembali.
“ Aneh. ” Komentar dina setelah doni pergi.
 Kenapa abang kamu dina? ” Kata ibunya kedina.
“ Lagi stress kali mah. ” Kata dina asal.
“ Huss…, entar kejadian lagi. ” Kata ibunya.
“ yah mungkin udah makan diluar kali, yuk lanjutin makannya ”. Kata ibunya sambil tersenyum ikut tersenyum melihat lyla yang makan dengan lahapnya.

curhat


Bullshit,sialan,gila,…………hanya perkataan itu yang kuteriakan dihatiku,bukan dimulutku,kenapa,karena hari itu hari selasa hari pambukaan ospek untuk seluruh calon mahasiswa baru diUNLAM.hatiku dongkol berat karena temanku i_cool terlambat membawakan aku celana SMA yang harus dipakai di hari itu.peraturan memang harus datang kekampus untuk mengikuti kegiatan paling lambat jam 06.30 pagi,tapi aku dengan temanku tanwir malah datang jam 07.00 karena menunggu celana yang dibawa i_cool.karuan aja panitia bagian disiplin membawa kami kehalaman persidangan yang tepatnya dibelakang kantor admin.kulihat memang ¼ mahasiswabaru bernasib sama sepertiku memang ada rasa sebersit donkol dengan i_cool yang terlalu lama mengantarkan celana itu,tapi,apa mau dikata itukan celana dia……