3
Banyak
yang keliru akan menilai dua bersaudara reny
dan nadia. Tidak sedikit orang mengira bahwa mereka hanya menjalin
sahabat biasa. Contohnya saja dina yang sebelum mengenal reny ia mengira bahwa
nadia adalah sahabatnya. Tetapi setelah reny dan dina tergabung dalam
kepanitiaan PMR yang reny merupakan seniornya dina. Dina yang kala itu ingin
konsultasi masalah kepanitiaan berkunjung kerumah reny dan menemukan nadia
disana, dan baru sadar kalau reny dan nadia adalah saudara kandung.
Kekeliruan
itu memang tidak luput dari pebedaan mereka berdua yang begitu kentara.
Reny
dengan wajah cantiknya dan sifatnya yang agak feminim. Dan nadia yang walaupun
juga cantik tertapi sifatnya yang terkesan tomboy dan acuh terhadap orang lain
membuat kedua bersaudara itu tidak layak disebut sebagai saudara setelah
bertanya dengan malu-malu ke renynya sendiri.
Tetapi
dibalik semua itu mereka mempunyai kenangan yang teramat pedih sehingga menciptakan
perbedaan yang segnifikan antara keduanya.
Semua
berawal dari pertengkaran kedua orang tuanya saat mereka tinggal di negri paman
sam. Reny yang saat itu masih berumur tiga tahun hanya bisa menangis saat
melihat tamparan bapaknya mendarat dipipi kanan ibunya. Sedangkan nadia masih
dalam kandungan ibuinya, reny kecil yang melihat pertengkaran orang tuanya trauma
mulai saat itu.
Setelah
apa yuang terjadi, reny kecil dan ibunya menuju bandara dan pergi meninggalkan
bapaknya menuju tempat kelahiran ibunya dipedesaan jogja dan tinggal ditempat
saudara ibunya untuk sementara, dan disitulah ibunya melahirkan nadia.
Pergaulan
lingkungan mereka yang baru ternyata sangat keras. Hampir setiap malam
terdengar suara para pemuda yang mabuk-mabukan, berjudi dan perkelahian.
Selama
beberapa tahun mereka tinggal disana, dan disitulah nadia tumbuh dan berkembang
hingga ibunya mendapat berita bahwa suaminya yang di Amerika meninggal dunia
dan semua warisannya jatuh ketangan ibunya yang membuat mereka pindah
keperkotaan sekaligus membuat ibunya super sibuk dengan urusan bisnis yang
ditinggalkan suaminya.
Dibalik
sosok nadia yang sering acuh dan tomboy sebenarnya ia memiliki sifat manja terhadap
ibunya, hanya kepada ibunyalah ia mencurahkan rasa sayangnya karena sejak kecil
ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan sang ayah, ia hanya tahu sang ayah meninggal
dan tidak pernah tahu semua yang terjadi antara ayah dan ibunya sejak ia masih
dalam kandungan, reny dan ibunya sengaja menyembunyikan semua agar nadia tidak
merasa benci terhadap ayahnya.
Pernah
nadia sakit karena ibunya hampir satu bulan tidak pulang kerumah karena urusan
bisnis diAmerika. Ia hanya bisa berbaring dikamarnya, Obat yang diberikan
dokter pribadi merekapun tidak diminumnya karena yang ia ingin sekarang ialah
belaian dari sang ibu yang dirinduinya.
Satu minggu sudah nadia berbaring dikasurnya, berbagai macam cara
pun dilakukan reny agar nadia mau meminum obat yang telah diberikan dokter
padanya. Beberapa kali reny menhubungi ibunya lewat ponsel, tetapi yang ada
hanya suara operator ponsel yang sedang mengatakan kalau pemilik nomor sedang
sibuk.
“ kamu minum obatnya ya.. ” bujuk reny untuk kesekian kalinya.
Tetapi bujukan itu lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala dika.
.....
Trang !! suara benda
yang pecah mengagetkan reny yang baru pulang dari sekolah. Rany buru-buru
menuju kamar nadia, dilihatnya wajah nadia pucat pasi dan sesekali meletakan
tangan nya di dahi nadia untuk mencek panas tubuhnya yang meningkat dari hari
sebelumnya. Reny memupuh nadia menuju mobil dan membawa nadia kerumah sakit
terdekat.
Reny dengan baju sekolahnya cemas menunggu nadia diruang tunggu
rumah sakit, sambil mencoba menghubungi nomor ibunya berulang kali. Tidak
terasa air mata reny membasahi pipinya. “kenapa mamah tidak datang disaat semua
memerlukan belaiannya, tidakah mamah sadar kalau kebahagiaan tidak hanya
terdapat pada uang. ” sebenarnya reny juga rindu akan belaian ibunya, tetapi ia
mencoba berpikir agak dewasa dan memaklumi kesibukan ibunya. Tetapi sekarang
bukan saat yang tepat untuk memaklumi keadaan, perlahan ia juga ingin protes
pada ibunya yang sering meninggalkan mereka.
Suara ponsel ditasnya menyadarkan reny dari lamunannya.
“ Reny kamu dimana sih ? ko’ rumah ga’ dikunci?. ” suara itu tidak
asing lagi ditelinga reny.
“ Mamah! sekarang aku dirumah sakit, nadia lagi sakit mah. ” Kata reny yang tiba-tiba panik.
“ Oke, kamu tenang ya sayang mamah kesana sekarang. ”
Sepuluh menit kemudian ibunya sudah berada dirumah sakit dan
bergegas menuju kamar yang disebutkan reny, dengan sigap wanita itu membuka
kamar dan menemukan reny sedang duduk disamping dika yang terbaring lemah.
“ Mamah .” sambut reny begitu melihat yang datang adalah ibunya.
Ibunya langsung mengambil posisi duduk disamping reny dan membelai
ranbutnya mesra.
“ Ma..h. ” panggil nadia dengan suara yang agak dipaksakan.
“ Sayang jangan bergerak dulu ya. ” pinta ibunya sambil menggenggam
tangan nadia.
“ Maafin mamah ya sayang, tadi ka’ reny udah cerita ke mamah kenapa
kamu sampai kayak gini. ”
Nadia menganggukan kepalanya dengan manja. “ tapi mamah janji ya
jangan pergi-pergi lagi. ” Nadia memegang erat tangan ibunya.
“ Iya, kemarin mamah udah bilang ke om kamu kalau perusahaan bapak
om kamu yang urus, jadi sekarang mamah gaselalu setia disamping nadia. ” kata
ibunya tersenyum penuh sayang.
“ Nadia sayang mamah. ” Balas nadia tersenyum manja.
Ibunya tersenyum mesra sambil menggandeng bahu reny yang juga ikut
bahagia karena keluarga yang diidamkan nya akan kembali seperti dulu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar