MENTARI
SENJA
Bull shit,sialan!, hanya itu yang
bisa keluar dari hatiku yang penuh sesak pada sumpah serapah yang sebenarnya
ingin kutumpahkan kepada seseorang dihadapanku, tetapi hatiku begitu ciut untuk
memuntahkan isi hatiku, mulutku terkatup rapat seperti orang bisu yang hanya
bisa memandang seorang perempuan dihadapanku yang sedang memelototi mataku.
Terlihat diwajahnya keritan-kerutan yang menandakan ia seorang perempuan
pekerja keras yang sudah tua, dilengannya Nampak urat-urat yang berjejal keluar
seperti bukan tangan seorang perempuan pada umumnya.
“ Amak belum punya uang nak ”.
Rintihnya sesaat beberapa menit dalam syuasana diam.
“ kalau amak tidak mau membelikan
said sepeda baru, said juga tidak mau jualan kripik lagi disekolah.” Jawabku
sekeras mungkin.
Kulirik wajah amak saat itu merah
padam, air matanya mulai menetesi pipinya yang masih berdebu karena karena
belum sempat mencuci mukanya yang bekas debu jalanan saat ia menjajakan kripik
jualan kami tadi siang. Sementara Fatimah adikku yang baru berumur dua tahun sedang
menangis dipangkuannya, mungkin karena teriakanku membangunkannya dari tidur
nyenyaknya.
Memang kehidupan kami menurun
drastis saat ayahku meninggal satu tahun yang lalu. Ayah yang hanya kuli bangunan hanya bisa meninggalkan gubuk kecil
yang sudah bobrok yang sekarang kami diami, semenjak ayah tiada aku dan ibuku
mengumpulkan hasil jualan keripik singkong untuk biaya hidup kami sehari-hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar