Rabu, 22 Februari 2012

cerpen iseng


MENTARI SENJA
            Bull shit,sialan!, hanya itu yang bisa keluar dari hatiku yang penuh sesak pada sumpah serapah yang sebenarnya ingin kutumpahkan kepada seseorang dihadapanku, tetapi hatiku begitu ciut untuk memuntahkan isi hatiku, mulutku terkatup rapat seperti orang bisu yang hanya bisa memandang seorang perempuan dihadapanku yang sedang memelototi mataku. Terlihat diwajahnya keritan-kerutan yang menandakan ia seorang perempuan pekerja keras yang sudah tua, dilengannya Nampak urat-urat yang berjejal keluar seperti bukan tangan seorang perempuan pada umumnya.
            “ Amak belum punya uang nak ”. Rintihnya sesaat beberapa menit dalam syuasana diam.
            “ kalau amak tidak mau membelikan said sepeda baru, said juga tidak mau jualan kripik lagi disekolah.” Jawabku sekeras mungkin.
            Kulirik wajah amak saat itu merah padam, air matanya mulai menetesi pipinya yang masih berdebu karena karena belum sempat mencuci mukanya yang bekas debu jalanan saat ia menjajakan kripik jualan kami tadi siang. Sementara Fatimah adikku yang baru berumur dua tahun sedang menangis dipangkuannya, mungkin karena teriakanku membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
            Memang kehidupan kami menurun drastis saat ayahku meninggal satu tahun yang lalu. Ayah yang hanya kuli  bangunan hanya bisa meninggalkan gubuk kecil yang sudah bobrok yang sekarang kami diami, semenjak ayah tiada aku dan ibuku mengumpulkan hasil jualan keripik singkong untuk biaya hidup kami sehari-hari
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar